PRODUK JASA HUKUM
Kami menawarkan anda beberapa produk jasa hukum
Litigasi · Islam · Rendahkan Hati Dengan Saling Memaafkan
Rendahkan Hati Dengan Saling Memaafkan
23 May, 2020
272
0
Arfan Adha Lubis, SH, MH.

Oleh: Arfan Adha Lubis, SH, MH.*

Beberapa hari lagi Ramadhan, bulan yang penuh rahmat dan berkah, akan meninggalkan kita semua. Hadirnya bulan Syawal bagi Umat Islam pada dasarnya tidak terpisahkan dengan kehadiran bulan Ramadhan. Antara keduanya bagaikan dua sisi mata uang saling melengkapi. Orang yang dapat menikmati, bahkan pantas merayakan kehadiran bulan Syawal, adalah orang-orang yang terpelihara kesucian dirinya dan telah mendapatkan ridho Allah SWT. Sebab, telah melaksanakan ibadah Ramadhan dan lainnya atas dasar iman dan ikhlas.

Mari kita menyikapi kehadiran bulan Syawal dengan penuh rasa syukur dan tawadhu' kepada Allah SWT. Sehingga kenikmatan yang telah kita raih selama ini akan bertambah. Sejalan dengan itu, biasanya menjelang berakhirnya Ramadhan 1441 H. Kaum Muslimin dan Muslimat sering menyampaikan ucapan “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441H” diiringi dengan ucapan permohonan maaf lahir dan batin dan doa. Namun, ada juga yang menyampaikan proses perjalanan ibadah puasa sebagai sarana untuk mensucikan diri untuk kembali fitri (suci) dalam bulan Syawal dan pada bulan-bulan selanjutnya.

Saling memohon maaf sesungguhnya dapat dilakukan setiap saat, namun menjadi tradisi di kalangan umat Islam bahwa saling mohon maaf dilakukan pada akhir Ramadhan ataupun selama bulan Syawal setelah memperoleh keampunan dari Allah Yang Maha Pengampun (Al Ghoffar) yang telah diusahakan selama bulan Ramadhan.

Jika permohonan ampun dan maaf ditujukan kepada Allah dalam hubungan vertikal antara hamba dengan Tuhannya, maka secara horizontal sesama insan permohonan maaf juga dilakukan. Hal ini sesuai dengan diperintahkan oleh Allah SWT dalam QS. Ali Imran 133-134, “dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seperti langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa” (133) “(yaitu) orang-orang yang memaafkan (hartanya) baik diwaktu lapang maupun diwaktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang berbuat kebajikan” (134).

Permohonan maaf dapat secara ringan diantara sesama insan (manusia) dan jika memang merasa tidak ada kesalahan yang dilakukan. Namun, sebaliknya permohonan maaf akan terasa berat, apabila antara sesama insan apalagi memang sudah terjadi kesalahan komunikasi atau kesalahan hubungan  satu dengan lainnya. Diperlukan suatu keberanian moral untuk mengakui kesalahan yang telah diperbuat dan hal ini yang terkadang disebabkan alasan-alasan harga diri dan lain sebagainya. Kesalahan telah diperbuat tetap menjadi suatu kesalahan karena tidak bersedia atau tidak mampu meminta maaf. Padahal sama kita ketahui, Allah tidak mencampuri dosa sesama insan, Dosa akan tetap dosa selama bersangkutan masih belum saling memaafkan.

Sebaliknya, juga ada orang-orang yang merasa martabatnya di atas orang lain sehingga tidak perlu mengabulkan permohonan maaf yang telah diajukan kepadanya. Dalam hal ini orang yang tidak mau meminta maaf padahal sudah melakukan kesalahan dan orang yang tidak mau memberikan kemaafan meskipun telah datang permintaan maaf, maka keduanya telah melakukan kesalahan yang bertentangan dengan kehendak Allah pada ayat Al-Qur’an surat Ali Imran di atas.

Tetapi ada juga orang yang dengan secara susah payah menghadapi segala rintangan untuk datang sekadar minta maaf atas kesalahan-kesalahan yang hanya Allah yang tahu apa yang dilakukannya. Kita berharap menjelang hari raya idul fitri ini, maka hati kita sudah fitri (kembali suci) dan siap menerima semua petunjuk Allah Yang Maha Suci (Al Quddus) yang diisikan-Nya ke dalam hati sanubari kita dan akan menjadi pemandu dalam mengarungi kehidupan untuk selamat di dunia dan akhirat.

 

Penutup

Dalam merayakan kehadiran bulan Syawal tidak diukur dengan kemewahan-kemewahan, akan tetapi dihiasi dengan persembahan puji syukur kehadirat Allah SWT, mengumandangkan takbir dan tahmid, melaksanakan sholat ‘idul fitri’, saling mempererat hubungan silaturrahmi dan saling bermaafan.

Ia rayakan hari kemenangan itu karena memang ia pantas dan berhak untuk menemui Tuhannya, disebabkan ia telah mensucikan dirinya selama satu bulan penuh. Bukankah Allah SWT Maha Suci. Hal inilah yang disukai Allah karena hal ini berupa langkah dan tindakan kebajikan.

Permohonan maaf merupakan salah satu upaya kita untuk merendahkan atau mengelola hati atau yang disebut dengan Zero Mind Process (pencerahan hati), yaitu menghilangkan seluruh penyakit hati yang selalu menutupi hati (qalbu) kita sehingga akan lebih memudahkan untuk menerima sinyal-sinyal dari Allah berupa suntikan sifat-sifat Allah yang berasal dari 99 Asmaul Husna.

Pada saat hati kita sudah kosong dari segala penyakit hati (al-hasad, dengki, dan iri. Untuk itu tidaklah berlebihan jika dinyatakan orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan dasar keimanan dan keikhlasan adalah orang orang yang telah mendapatkan keberuntungan dalam hidup ini.

Berbahagialah orang-orang yang mampu mensucikan hatinya sehingga tiada kesulitan menerima pesan-pesan yang suci dari Allah yang Maha Pemberi Kehidupan (Al Qaryum) dan Allah Yang Maha Pemberi Tuntutan (Al Hadri), dan dengan demikian kita akan mampu meraih kemenangan di dunia dan akhirat. Wa Allhu a’tamu bishawab, minal Aidin wal Faizin.

Penulis adalah Alumni FH UMSU & PMIH UMSU, Penulis tetap di litigasi.co.id